Di sebuah lorong sunyi yang sering kita lewati tanpa banyak bertanya, tiba-tiba tumbuh keberanian yang luar biasa. Tetangga-tetangga kita orang biasa, dengan tangan yang sama-sama lelah oleh kerja dan hidup berdiri dalam satu barisan hati untuk Rafli Maulana, seorang tahanan politik yang suaranya coba dibungkam, namun justru bergema semakin keras melalui solidaritas.
Solidaritas itu tidak lahir dari panggung megah, melainkan dari obrolan sederhana di teras rumah, dari pesan berantai yang jujur, dari kepedulian yang menolak diam. Ketika satu orang dikurung oleh tembok kekuasaan, tetangga kita memilih menjadi tembok penyangga menahan jatuhnya harapan, menolak padamnya martabat. Di situlah keajaiban bekerja: rasa “kita” mengalahkan rasa takut, dan kebersamaan menjelma kekuatan.
Apa yang dilakukan tetangga kita bukan sekadar simpati; ia adalah aksi moral. Dari doa yang dikirimkan, penggalangan bantuan, hingga suara yang disatukan di ruang publik semua itu membuktikan bahwa solidaritas mampu menggeser sunyi menjadi sorak, mengubah keterasingan menjadi pelukan kolektif. Solidaritas memberi Rafli Maulana pesan yang tak terbantahkan: kamu tidak sendiri. Dan pesan itu, sering kali, lebih kuat dari jeruji.
Dampaknya nyata. Solidaritas menekan ketidakadilan, mengawasi kekuasaan, dan menjaga nyala kemanusiaan tetap hidup. Ia membuat negara ingat bahwa setiap tindakan diawasi oleh nurani bersama. Ia mengajarkan kita bahwa keberanian bukan milik segelintir orang, melainkan hasil gotong royong ketika tetangga menjadi saudara, dan kepedulian menjadi perlawanan paling elegan.
Hari ini, tetangga kita telah menunjukkan satu hal penting: solidaritas bukan hanya empati, ia adalah energi perubahan. Untuk Rafli Maulana, untuk siapa pun yang disenyapkan, dan untuk masa depan di mana keadilan tak perlu berteriak sendirian karena selalu ada kita, yang memilih berdiri bersama.